Jakarta – Dewan Pimpinan Pusat Pemuda, Pelajar, dan Mahasiswa Mitra Kamtibmas (DPP PPMK) melaporkan penyidik senior KPK Novel Baswedan ke Bareskrim Polri atas unggahan Novel terkait kasus meninggalnya Ustadz Maaher.

“Setelah tadi berjam-jam konsul dengan pihak penyidik, pihak siber, Alhamdulillah laporan kami diterima. ” ujar Waketum PPMK Joko Priyoski.

Joko juga mengatakan bahwa Novel Baswedan harus menjaga integritasnya sebagai penyidik senior di KPK. Terkait peristiwa meninggalnya Ustadz Maaher, menurutnya, Novel Baswedan tidak boleh memiliki tendensi terhadap sesama penegak hukum.

“Intinya pesan kami dari Aktivis Pemuda Indonesia, bahwa Novel Baswedan harus menjaga integritas dia sebagai penyidik senior di KPK. Jangan saling serang sesama aparat dan institusi. Karena akan menjadi preseden buruk bagi iklim demokrasi di Indonesia. Dan ini akan membuat gaduh kalau dibiarkan,” ucapnya.

Joko menyebut pelaporannya terhadap Novel Baswedan didasari oleh panggilan hati nurani. Joko berharap Novel segera dipanggil Bareskrim Polri untuk dimintai klarifikasi soal cuitannya tentang Ustadz Maaher yang meninggal dunia di tahanan.

“Karena gini, karena saya baca Twitter itu kemarin, kemarin itu kami, dan kami aktivis muda. Jadi kami ada panggilan hati nurani kami, ketika ini ada yang membuat gaduh republik ini kami laporkan. Jadi karena dia sudah membuat gaduh dan ini ada indikasi kalau dibiarkan ini akan menjadi bola salju,” terang Joko.

Sementara itu, Lisman Hasibuan selaku saksi atas pelaporan menyarankan Novel Baswedan untuk keluar dari KPK. Jika ingin menyampaikan kritik ke petugas Polri, maka Novel harus keluar dari KPK dan membentuk lembaga swadaya masyarakat (LSM).

“Kalau dia mau mengkritisi, semua yang disampaikan pak presiden sah-sah saja mengkritisi. Tetapi sesama petugas janganlah mengkritisi. Kita harus jaga etika disitu sesama petugas. Kalau dia mau jadi kontrol sosial bagus dia keluar saja dari KPK, dia bentuk LSM dia jadi ketua LSM. Saya rasa bagus begitu, Novel bentuk LSM keluar dari KPK untuk bicara tentang kontrol sosial,” timpal Lisman.

Sebelumnya, Novel Baswedan membuat cuitan tentang meninggalnya Ustadz Maaher. Dalam unggahan di akun Twitter pribadinya, Novel Baswedan mempertanyakan soal penahanan orang yang sedang sakit.

Innalilahi Wainnailaihi Rojiun. Ustadz Maaher meninggal di Rutan Polri. Padahal kasusnya penghinaan, ditahan, lalu sakit. Orang sakit, kenapa dipaksakan ditahan? Aparat jangan keterlaluan lah. Apalagi dengan Ustadz. Ini bukan sepele lho..,” cuit Novel melalui akun Twitter @nazaqistsha seperti dilihat pada Selasa (9/2).

Ketua Wadah Pegawai (WP) KPK Yudi Purnomo-pun membela Novel. Dia menyayangkan adanya laporan tersebut.

“Saya menyayangkan adanya laporan terhadap penyidik senior KPK tersebut. Apalagi pemerintah sendiri sudah menyatakan terbuka atas kritik,” ucap Yudi.

Dia memastikan laporan tersebut tak akan berpengaruh bagi Novel. Menurutnya, Novel tetap akan bekerja mengungkap kasus korupsi yang sedang dia tangani bersama timnya.

“Namun Bang Novel sendiri tidak terpengaruh dengan laporan tersebut. Tadi beliau masih bekerja memimpin satgasnya mengungkap kasus korupsi yang mereka tangani,” katanya.